PERBAIKI: Anggota BPBD Banggai Laut saat menurunkan atap rumah yang diluluhlantakan angin puting beliung di Kompleks Pasar Baru, Kelurahan Lompio, Banggai Laut, Selasa (11/8/2020). [FOTO: ALISAN/LUWUK POST]

SultimNews, BALUT-Pagi yang tenang di Pasar Baru Banggai, tiba-tiba riuh pada Selasa (11/8). Warga yang hendak ke pasar tradisional itu, berhamburan mengamankan diri.

Pengendara mempercepat kendaraan setelah melihat awan hitam bergelayut di atas kepala diserta angin. “Angin puting beliung itu,” kata Kepala Seksi Pengelolaan Media Publik, Diskominfo Banggai Laut, Ismail Supa dalam sebuah video yang diterima Harian Luwuk Post.

Angin itu kemudian membentuk puting beliung dan kian mendekati Pasar Baru. Kemudian mengangkat atap rumah Ambrosius Lasokan.

Lalu menghantam dinding Toko Himalaya. “Kalau tidak ada toko itu, sampai ke jalan atap rumah itu,” ujar Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, BPBD Banggai Laut, Arsid Hamidi.

Rumah Ambrosius yang dihantam angin puting beliung belum lama dibangun. Dari rumah itu, atap rumah terbang ke dinding Toko Himalaya, lalu jatuh ke atap rumah lama Ambrosius. “Ada orang dalam rumah, tapi tidak apa-apa,” kata dia.

Beruntung memang rumah yang tertimpa atau berikut balok kayunya tak ikut roboh, meski sudah terlihat berkarat. “Iya tidak apa-apa, selamat,” kata Marselus Lasokan, putra Ambrosius.

Tak lama setelah puting beliung menggulung rumah Ambrosius, personil BPBD sudah di lokasi kejadian. “Tim BPBD ada 15 orang, full, ditambah pak kaban, beberapa kabid, total 17 orang,” kata Arsid saat mengangkat atap rumah yang melayang itu.

Angin puting beliung ini cukup mengagetkan masyarakat. Pasalnya, beberapa terakhir ini cuaca cukup cerah, tapi kemarin pagi malah berubah 180 derajat, hujan mendahului sebelum puting beliung melanda.

Seperti dilansir CNN Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan puting beliung merupakan istilah lain dari angin kencang. Puting beliung disebut merupakan fenomena cuaca yang berasal dari satu sumber, yaitu awan Cumulonimbus (Cb) yang sangat kuat.

“Puting beliung adalah sebutan masyarakat terhadap fenomena angin kencang yang berputar (vortex), dan umumnya terjadi bersamaan dengan curah hujan dengan intensitas tinggi,” kutip BMKG.

BMKG menyebut tidak semua fenomena yang berasal dari awan Cb dapat menjadi puting beliung. Sebab, fenomena yang berasal dari awan Cb bisa hanya hujan lebat yang disertai petir atau hujan es.

BMKG mengatakan fenomena puting beliung hanya bersifat lokal, mencakup area antara 5 hingga 10 kilometer. Puting beliung dapat didefinisikan sebagai angin kencang yang muncul secara tiba-tiba.

Puting beliung, lanjut BMKG mempunyai pusat, bergerak melingkar seperti spiral, hingga menyentuh permukaan bumi.

Dari segi kecepatan, puting beliung merupakan angin kencang berputar yang keluar dari awan Cumulonimbus dengan kecepatan lebih dari 34,8 knots atau 64,4 km/jam dan terjadi dalam waktu singkat.

“Periode hidupnya sangat singkat, yaitu sekitar 3 sampai 5 menit, mulai dari tumbuh hingga punahnya. Jenis angin ini di Indonesia kadang dikenal juga dengan istilah angin puyuh, lesus (Jawa), sirit batara (Sunda),” kutip BMKG. (ali/jps/dal)