Robusta Panas di Rimbun Pepohonan Salodik

SIAPKAN COFFEE: Acong menyiapkan kopi untuk pengunjung di objek wisata Salodik. [Foto Pribadi]

SultimNews.info, BANGGAI- Bunyi jatuhan air sungai dan udara Salodik yang sejuk, membuat tempat wisata ini terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja. Menikmati kesejukan Salodik, tidak lengkap tanpa singgah di ZAGcoffee. Kafe ini khusus hadir, untuk para pecinta kopi. Dikelola oleh seorang anak muda, ZAGcoffee menawarkan kopi robusta yang rasanya tak kalah dengan kafe-kafe di dalam kota.

ZAGcoffee menyediakan racikan kopi Robusta dari Toraja. Salah satu jenis kopi paling terkenal di Indonesia.  “Saya menggunakan kopi Robusta,” kata Acong sambil menyodorkan kopi medium Vietnam Drip. Komposisinya seimbang, antara kopi dan susu.

Selain mengelola kafe, anak muda asal Bone, Sulawesi Selatan, ini menjadi distributor Pohon Kopi. Kopi asal Makassar itu, didistribusikannya di kafe-kafe di kota Luwuk, Toili, dan Taliabu Maluku Utara.

Ia bercerita sudah sudah tiga tahun membuka warung kopi di perkampungan Salodik, dan dua tahun terakhir membuka kafe kecil di lokasi air terjun itu. Dulunya ia berjualan kopi menggunakan gerobak di Salodik. “Malam di kampung, pagi sampai sore di Salodik.  Tapi sejak membangun kafe ini di awal tahun 2019, gerobak sudah saya parkir,” katanya ditemui akhir pekan lalu.

Dalam sehari, ia bisa menjual 60 cangkir kopi. Namun, jika pengunjung Salodik ramai terutama saat liburan akhir pekan, ia menjual sekira 100 gelas kopi.

Ia membayar retribusi Rp 50 ribu kepada pemerintah daerah. Pemerintah daerah tidak membebani retribusi yang besar, karena Acong membangun sendiri kafenya itu. Mulai dari menimbun lahan hingga membangun kafe. “Insyaallah bulan November, saya bangun dua lantai di belakang. Biar pengunjung bisa ngopi sambil menikmati  pemandangan air terjun,” katanya.

Ia juga melayani pemesanan kopi dari luar kafe. Ia mengaku pernah menjadi barista sehari, di kediaman pribadi Bupati Banggai Herwin Yatim. “Pernah jadi barista sehari di rumah beliau. Saat ada acara,” ujarnya.

Acong bisa dibilang mahir meracik kopi. Sebelum membangun kafe, ia pernah bekerja di Otten Coffee Bandung sekira tahun 2016 lalu. Awalnya ia menjadi waitres (pelayan), di salah satu kafe terkenal di Indonesia itu. Lambat laun, ia mulai mencintai dunia kopi dan belajar membuat kopi (barista). Ia berharap saat balik Luwuk bisa membuka usaha kedai kopi sendiri

“Saya memang tidak terlalu mahir di roasting. Tapi lumayan tahu jadi barista. Belajar otodidak,” akunya.

Menurutnya, ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk menyempurnakan rasa dan kualitas kopi. Di tangan petani 50 persen,  saat roasting (songara) 30 persen dan di tangan barista 20 persen. “Kualitas biji kopi juga harus bagus,” ujarnya.

Ia memimpikan bisa membuat kebun kopi di Salodik. Saat ini, ia sedang menyiapkan bibitnya. Menurutnya, kopi jenis Robusta cocok dengan lahan perkebunan di Salodik yang memiliki ketinggian sekira 400 mdpl. “Salodik cocok untuk Robusta,” tuturnya. (ris)