Seberangi Laut Maluku demi Pilkada

Personil Bawaslu Banggai Laut saat bersiap menyeberang ke Desa Bungin, Bokan Kepulauan dari Desa Matang, Banggai Selatan. Mereka melintas hanya dengan menumpangi ketinting dengan kecepatan 17 daya kuda. [FOTO: ISTIMEWA]

SultimNews.info, BANGGAI- Pengawas dan penyelenggara pemilu mendapat tantangan geografis. Tak jarang, gelombang ekstrem dan arus deras harus dilewati demi melaksanakan tugas.

Salah seorang staf Bawaslu Kabupaten Banggai Laut, Syarif mengakui, pernah menyeberangi Bokan Kepulauan hanya menumpangi ketinting bersama dua personil Bawaslu lainnya. Terhitung dengan motoris, ketinting itu mengangangkut empat orang. “Saya dengan teman dari Matanga ke Bungin, Bokan Kepulauan,” tutur dia.

Di perahu itu, terdiri dari dua mesin ketinting. Ini sebagai antisipasi apabila terdapat mesin yang bermasalah. “Satu ketinting itu sekitar 17 PK,” katanya.

Rute berbahaya itu harus dilewati untuk mengawasi proses verifikasi faktual di tingkat desa pada 16 Agustus 2020. “Melintas jam 1 siang sampai sekitar jam 3 sore,” katanya.

Mengapa tak menggunakan speedboat? Menurut Syarif, dalam kondisi gelombang kencang speedboat cukup rawan tenggelam. Apalagi, beberapa hari sebelumnya Ketua Bawaslu Banggai Laut Suparti Bungalo dan beberapa personilnya tak mampu menembus Bokan Kepulauan menggunakan speedboat. “Kalau naik speedboat juga gelombang tinggi, lebih terasa,” tuturnya.

Bagi para pengawas dan penyelenggara pemilu, gelombang tinggi dan menyeberangi lautan menggunakan ketinting bukan hal baru. “Pileg 2019 kami melintas  dari Desa Panapat ke Tikson, Bokan Kepulauan pakai ketinting juga. Ombak agak lumayan tinggi waktu itu,” katanya.

Di perlintasan Matanga-Bokan Kepulauan, beberapa insiden pelayaran pernah terjadi karena membelah Laut Maluku. Pada Januari 2020 KM Risfin Pratama Sakti tengelam dan nyaris mengorbankan 15 nyawa penumpangnya. Di perlintasan ini juga terkenal dengan gelombangnya yang ekstrem. (ali)