Cerita Mula Mulo Hilang, Cagar Budaya di SMP Negeri 1 Banggai

BANGUNAN BARU: Ruang kelas belajar di SMP Negeri 1 Banggai yang membelakangi Taman Kota Banggai, Rabu (14/10). Sebelumnya, di gedung itu berdiri cagar budaya gedung Mulo. [Foto: Alisan]

SultimNews, BALUT-Genteng merah itu mencolok dari Taman Kota Banggai. Terdesak bangunan lain di sekitarnya, tak menyurutkan niat renovasi beberapa tahun lalu.

Genteng merah dengan paduan dinding oranye itu, merupakan ruang kelas SMP Negeri 1 Banggai di Jalan Banteng, Kelurahan Lompio, Kecamatan Banggai. Sebelum demikian bagusnya, tepat di atas gedung baru itu berdiri gedung Mulo, yang kemudian dijadikan ruang kelas.

Namun, sekitar satu tahun setelah Kabupaten Banggai Laut menjadi daerah otonomi baru, gedung Mulo itu digantikan gedung bergenteng merah dan berdinding oranye itu.

Padahal, gedung Mulo itu telah ditetapkan menjadi cagar budaya  sesuai Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: KM 11/PW007/MKP 03. Penetapannya sebagai cagar budaya bersama dengan Keraton Kerajaan Banggai, makam Tandu Alang atau Tengku Alam, Makam Prins Mandapar atau Raja Banggai Pertama, bekas benteng Portugis, dan bekas bEnteng tradisional.

Amatan wartawan koran ini, sebelum dirobohkan, gedung Mulo itu berarsitektur mirip dengan rumah Jogugu yang terletak di seberang Taman Kota Banggai. Namun, ukurannya lebih besar.

“Iya seperti begitu,” kata seorang alumni SMP Negeri 1 Banggai membenarkan hal itu.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, Muhamad Natsir, mengatakan jika sudah dibongkar total terdapat istilah rebuilding atau pembangunan kembali. Namun, mesti melalui kajian yang serius.

“Karena utamanya terkait pada bentuk, bahan, dan ukuran,” tutur dia.

Apabila pembangunan kembali, kata dia, ciri-ciri arsitekturnya harus tampak. Namun, hal itu cenderung sulit apalagi jika belum terdapat data yang tersimpan.

“Kalau misalnya dokumentasi, tetapi ada kelemahannya,” katanya.

Indonesia dalam menangani bangunan cagar budaya, ujar Natsir, menganut system pada Negara-negara di Eropa, yakni mengacu pada tinggalan fisik yang ditemukan terakhir.

“Memang rebuilding banyak seperti Jepang. Ada foto saja mereka sudah bangun kembali,” papar Natsir.

Ia menambahkan, kategori bangunan bersejarah atau cagar budaya adalah kekhususananya, yakni tidak dapat diperbarui. Artinya jika bangunan aslinya sudah tidak ada, maka nilai-nilai aristektur dan ilmu pengetahuan pada bangunan itu cenderung ikut hilang.

“Temuan-temuan awal kita sesuai dengan kondisi bentuk, aristektur bangunan, itulah kemudian yang kita upayakan lestarikan,” terangnya. (ali)