Pertambangan Dorong Percepatan Pemulihan

Kepala Bappeda dan Litbang Kabupaten Banggai Ramli Tongko

SultimNews, BANGGAI– Sektor pertambangan berpotensi menjadi pemicu bangkitnya ekonomi lebih cepat, setelah terpukul pandemi Covid-19. Namun, pemerintah Kabupaten Banggai juga menginginkan pertumbuhan yang inklusif.

Kepala Bappeda dan Litbang Kabupaten Banggai Ramli Tongko mengakui, tahun 2020 pertumbuhan ekonomi terkontraksi akibat wabah. Hal itu berlaku di secara nasional dan 12 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah, terkecuali Morowali. “Kita minus 4,78 persen, mengalami perlambatan,” katanya kepada Harian Luwuk Post, Selasa (29/3).

Hampir semua sektor mengalami perlambatan, tetapi kontraksi terbesar, kata dia, terjadi pada sektor pergudangan dan transportasi yang minus hingga 30 persen. “Kemudian pertambangan dan galian, itu semua terdampak,” tuturnya.

Tahun 2021 pemerintah daerah menargetkan pertumbuhan kembali positif. Itu didorong dengan situasi terkini yang perlahan menggeliat dan memunculkan optimisme pelaku usaha. “Tapi masih di angka 2-3 persen,” jelas dia.

Ia menjelaskan, apabila mematok angka pertumbuhan ekonomi harus disertai dengan nilai investasi. “Kita misalnya mau pasang target sekian persn, investasi apa yang harus kita dorong, itu semua mestinya sudah bisa dihitung,” ucap dia.

Ramli mengakui, untuk menumbuhkan ekonomi seperti sebelumnya, harus terdapat industri baru, tetapi yang tercepat dari sektor pertambangan. “Entah di sektor apa, ya mungkin industri turunan gas, mungkin pupuk. Kan amoniaknya sudah ada,” katanya.

Tahun 2016 geliat dari sektor industri pertambangan mencapai puncaknya, sehingga pertumbuhan ekonomi mencapai 37,12 persen, lebih tinggi dari 2015 sebesar 33,71 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi tahun 2017 mengalami penurunan menjadi 8,14 persen, dan 2018 tersisa 6,79 persen.

Tahun 2014 lalu, sektor pertambangan sempat mengalami penurunan efek berlakunya Undang-Undang tentang Minerba Nomor 4 Tahun 2009. Akibatnya, seluruh tambang nikel berhenti beroperasi. “Waktu itu tidak bisa ekspor biji (nikel), harus ada pengolahan,” jelas Ramli.

Belakangan, industri nikel kembali bergeliat seiring adanya smelter di Kabupaten Morowali, sehingga keran investasi di bidang ini kembali bergeliat. “Kalau ada invstor yang mau masuk, sekalian dengan smelter,” katanya.

Meski begitu, pemerintah Kabupaten Banggai juga mengincar pertumbuhan yang inklusif. Artinya dirasakan secara riil oleh masyarakat. “Kita ingin pertumbuhan, tapi yang berkualitas yang memang tumbuh di masyarakat,” katanya.

Untuk mewujdkan hal itu, kata dia, sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata yang mesti dipacu. Pariwisata yang kini tengah menjadi perhatian karena berefek ke berbagai sektor yang bersentuhan pada masyarakat. Selain itu, didukung akomodasi dan potensi destinasi di Kabupaten Banggai. “Kita punya modal yang cukup untuk menuju ke sana,” katanya.

Ia menjelaskan, apabila mematok angka pertumbuhan ekonomi harus disertai dengan nilai investasi. “Hanya memang kalau dihitung kontribusi untuk memacu cepat, tidak seperti investasi besar itu (pertambangan),” papar dia. (ali)