Duka Dari Palu Untuk Anak Anak Palestina

Seorang ayah membawa anak dan istrinya menyampaikan pesan solidaritas dari masyarakat Palu untuk Palestina di bundaran Pertokoan Kota Palu, Selasa (18/5). [Foto Barnabas Loinang/SultimNews.Info]

Backsound Atouna El Toufoule “beri kami masa kecil” terdengar menyayat dari kejauhan. Dibalik suara orator yang serak basah menahan tangis saat menceritakan derita anak-anak di Palestina yang saat ini pasrah menunggu ajal (baca : Syahid).

Dentuman roket-roket Pemerintah Israel tak menjamin tidak masuk rumah mereka. Yang setiap saat bisa meluluhlantakkan beton rumah termasuk penghuninya, lantaran keluarga Palestina memilih mempertahankan rumah dan tanah airnya.

Lagu ini menceritakan seorang anak yang merasa kehilangan masa kecilnya karena perang. Tak sedikit anak-anak menjadi yatim piatu, kehilangan kedua orang tuanya. Atau malah anak-anak Palestina sendiri yang tersenyum terbungkus kain kafan.

Pedihnya duka anak-anak dan warga Palestina merasuk relung hati warga Kota Palu.

“Jika saja Palestina itu dekat, maka Kami pasti akan kesana menolak penjajahan dan membantu saudara kita,” kata Cipto, anggota DPRD Palu yang turut menjadi bagian peserta aksi di bundaran Pertokoan Kota Palu, Selasa (18/5).

Peserta aksi yang terdiri dari berbagai organisasi massa Islam membentangkan spanduk bertulis we stand for Palestina -Kami ada untuk Palestina. Mereka mengenakan kufiya (sorban palestina) dan menggalang dana. Tak sedikit dari pengendara mobil maupun motor bersimpati kepada aksi ini dengan memberikan sumbangan yang langsung akan ditrasfer ke lembaga kemanusian di Palestina.

Sampai saat ini, rudal rudal dari pesawat tempur itu masih siaga mengincar target.

Mengutip dari Jawapos.com pada Senin (17/5),t otal korban tewas selama peristiwa pengeboman terakhir sudah sebanyak 192 jiwa. Korban tewas termasuk 58 anak-anak dan 34 perempuan, telah tewas di Jalur Gaza sejak kekerasan terbaru dimulai sepekan lalu. Israel telah melaporkan 10 orang tewas, termasuk dua anak. (bas)