Japesda Gorontalo-Faperik UMLB Jalin Kerja Sama

Proses penandatangan naskah kerjasama antara Japesda Gorontalo dan Faperik UMLB di ruang Pascasarjana UMLB, Senin (14/6). [Foto: Kaleb Sayo]

LUWUK, SultimNews– Fakultas Perikanan (Faperik) Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai (UMLB) terus bergerak maju. Kolaborasi para dosen muda di fakultas itu selalu berfikir bagaimana mengembangkan Faperik untuk lebih baik lagi.

Faperik dibawah pimpinan Erwin Wuniarto menyadari bahwa mengembangkan lembaganya bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya menjalin kerja sama dengan lembaga lain. Dan ini dibuktikan Faperik.

Pada Senin (14/6), Faperik UMLB menantangi naskah kerja sama dengan Perkumpulan Jaringan Advokasi Pengelolah Sumber Daya Alam (Japerda) Provinsi Gorontalo, di ruang Pascasarjana UMLB, Senin (14/6).

Erwin Wuniarto mengatakan, kerjasama yang dibangun ini, berkaitan dengan bagaimana proses pengelolaan sumber daya alam (SDA) pesisir dan laut supaya lebih terarah. Dekan muda ini menyebutkan, melalui kerja sama, para dosen dan mahasiswa Faperik bisa turun secara bersama-sama dengan pihak Japesda dalam mengelolah SDA, dengan tujuan untuk mensejahterakan masyarakat pesisir yang ada di Kabupaten Bangga.

“Dan saat ini wilayah kerja Japesda ada di Desa Uwedikan.  Dimana kita ketahui mahasiswa perikanan sering berkegiatan di wilayah Uwedikan,” jelasnya.

Karena itu, Erwin berharap, kerja sama ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh mahasiswa. Bagaimana mahasiswa dapat menerapkan ilmu, mencari ilmu dan dapat menyerap ilmu dari Japesda. Karena, perkumpulan Japesda ini bukan hanya satu disiplin ilmu. Namun berbagai basic ilmu ada di Japesda.  “Saya berharap juga, para mahasiswa bisa berkolaborasin dengan Japesda,” jelasnya.

Apalagi saat ini, pihak kampus dituntut untuk menerapkan merdeka belajar kampus merdeka. Dan kalau mahasiswa mampu menerapkannya, itu sudah 20 SKS sudah di dalam. Kedepan, tidak perlu lagi PKL. Tinggal buat laporan selesai. “Karena ini membantu mahasiswa dalam pengabdian kepada masyarakat. Bagaimana membiasakan diri di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Sementara Direktur Japesda Nurain Lapolo menjelaskan, kehadiran Japesda di Kabupaten Banggai khsusunya di Desa Uwedikan sudah sejak tahun 2017 silam. Waktu itu, pihaknya sebatas melaksanakan survei awal, terkait dengan potensi terumbu karang, dan potensi mangrove.

“Kami memperkuat bagaimana kapasitas masyarakat, apa saja potensi yang ada, dan melakukan pendataan. Kami mulai membangun kerja sama dengan stakeholder salah satu pemerintah di Kabupaten Banggai,” tandasnya.

Dan ditahun 2020 Japesda dipercayakan lagi oleh pihak donor untuk kembali berkegiatan di Uwedikan. Pihaknya memulai lagi dengan pendataan. Sebab, data ini sangat penting untuk menjadi dasar pada semua orang ketika pengambilan keputusan. “Masuk tahun 2021 kami memperkuat metode. Salah satunya model penutupan sementara lokasi penangkapan gurita. Dan juga soal perikanan skala kecil, kami melihat ada potensi,” katanya.

Nurain menjelaskan, saat ini potensi ekonomi di Uwedikan itu ada. Namun, masih ada yang perlu dibenahi. Sebab, potensi banyak, namun penghasilan masyarakat selalu begitu saja. Dari sisi ekonomi, masyarakat selalu berkata sudah menjaga ekosistem laut tapi situasi tidak pernah berubah.

“Ini akan kita benahi selama disini. Namun, kita tidak bisa melakukan sendiri. Makanya kami mengandeng para stakeholder di Kabupaten Banggai. Salah satunya Faperik UMLB,” jelasnya.

Sehingga melalui kerja sama ini, pihaknya bisa melaksanakan kegiatan bersama dengan mahasiswa ketika ada kegiatan akademik, seperti PKL dan magang. Hal ini, kata Nurain sudah dilakukan di Provinsi Grontalo. Bekerjasama dengan perguruan tinggi.

“Saya berharap di UMLB banyak yang tertarik untuk pengelolaan SDA khusus perikanan dan laut yang Kabupaten Banggai.  Sebab, potensinya ada. Sehingga ketika kami meninggalkan Banggai, para mahasiswalah yang akan melanjutkannya,” tutupnya. (leb)