Pengisian Pondasi Masjid : Warga desa yang beragama Nasrani di Desa Palam berpartisipasi dalam pembangunan masjid, menjadi wujud toleransi keagamaan yang masih terawat di desa itu. Jumat (9/7). [FOTO : ISTIMEWA]

SultimNews, SALAKAN– Terletak Paling Utara di Kecamatan Totikum. Palam, nama desa itu. Di tengah merebaknya sentimen politik keagamaan di Indonesia belakangan, semangat toleransi malah mengakar kian kuat di desa tersebut.

Buktinya, Jumat Pagi (9/7) kemarin, warga yang beragama Nasrani di desa itu tampak sama antusiasnya dengan saudara muslimnya saat membantu penimbunan pondasi masjid yang menurut kepala desa setempat baru dibangun pada Bulan Ramadan kemarin.

Sebuah pemandangan sosial yang tak lagi mudah disaksikan, sejak bangsa ini digerayangi teknologi informasi. Iya, itu mengagumkan. Setidaknya Desa yang tersembunyi jauh di bibir Peling Selatan itu telah memberikan satu dari sekian banyak warisan leluhur yang hilang dan tak ternilai itu.

Padahal, menurut Kepala Desa setempat, Rusli Stibis, hanya ada sekitar 26 Kepala Keluarga yang beragama Nasrani, dari 1476 jumlah total Kepala Keluarga di desa itu. Tapi warga non muslim tetap antusias membantu pembangunan masjid itu.

“Jujur, saya sangat salut dengan keikhlasan saudara-saudara Nasrani di desa saya. Mereka tetap semangat menjaga toleransi ke saudara-saudara muslimnya,” kata Rusli.

Rusli Stibis, atau kerap disapa Pak Uli, Kepala desa setempat menuturkan, semangat toleransi keagamaan di desanya bukan saja melalui pembangunan masjid itu, tapi dalam hal-hal lain juga demikian adanya.

“Misalnya ada warga muslim yang sakit, warga saya yang nasrani juga akan ikut membantu meringankan bebannya. Begitu juga sebaliknya,” tutur Pak Uli yang juga terlibat dalam pekerjaan itu.

Wujud toleransi di desa lain sudah pasti ada yang lebih luar biasa. Tapi setidaknya, kata dia, dirinya berhak bangga dengan kesadaran rasa persaudaraan saudara-saudara nonmuslim saya di desa ini.

Sehingga, menurut dia, tidak ada alasan bagu warga muslim Desa Palam untuk melakukan hal sebaliknya. Membantu warga non muslim baik untuk meringankan beban keluarga, apalagi pembangunan gereja.

“Pastinya, itu tanggung jawab saya. Saya akan berusaha merawat toleransi keagamaan saya semampu saya selaku pemimpin di desa ini. Biar nantinya dalam program desa lainnya saya dianggap gagal, tapi di sisi ini saya akan berupaya untuk berhasil. Agar generasi bisa belajar lebih dekat,” katanya.

Karena, menurut Rusli, permasalahan generasi saat ini bukan terletak padab kecerdasan intelektualnya melainkan lebih pada permasalahan mentalnya,” tukas dia. (Rif)