Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat, Dosen Faperik-FEB UMLB Lakukan Pengabdian di Tangeban

Dosen Faperik dan FEB UMLB saat membuat pelatihan UMKM pakan ikan alternatif (Maggot) di Desa Tangeba, Kecamatan Masama. [Foto: Istimewa]

SultimNews, MASAMA– Pandemi Covid-19 yang melanda di Kabupaten Banggai, tak menghalangi dosen Fakultas Perikanan (Faperik) dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai (UMLB) untuk berbuat kepada masyarakat.

Hal tersebut dibuktikan dengan kegiatan pelatihan UMKM pakan ikan alternative (Maggot) di Desa Tangeban, Kecamatan Masama. Kegiatan yang dilaksanakan sejak Juni hingga Agustus 2021 ini, melibatkan dua dosen Faperik, yakni Lady Diana Khartiono, S.Pi.,M.Si, dan Erwin Wuniarto,S.Pi.,M.Si serta seorang dosen FEB, Dr. Nurhidayah Layoo, MM.

Selain ketiga dosen tersebut, pelatihan ini juga melibatkan para alumni Faperik dan pemuda karang taruna Desa Tangeban.

Dosen Faperik, Lady Diana Khartiono, S.Pi.,M.Si mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan ini, merupakan bentuk pengabdian dosen kepada masyarakat. Dan upaya mensejahterakan masyarakat.

“Kegiatan ini dilaksanakan dari Juni sampai Agustus 2021. Kita bagi dua tahap, yakni pelatihan kultur Maggot dan manajemen kelompok,” jelas Lady Diana Khartiono, S.Pi.,M.Si, Kamis (26/8/2021).

Dosen muda ini menerangkan, pelatihan pembuatan Maggot ini perlu dilakukan. Sebab, maggot adalah larva lalat BSF (Black Soldier Fly) yang memiliki kandungan protein tinggi, sangat baik sebagai pakan ikan maupun ternak. Maggot ini juga mempunyai banyak kelebihan.

“Salah satunya tidak menimbulkan bau busuk yang menyengat. Lalat maupun larva BSF tidak menimbulkan penyakit,” jelasnya.

Tak hanya itu, Lady menerangkan, kandungan nutrisinya juga tinggi. Hal tersebut dapat berfungsi sebagai pengurai, yang mampu mengatasi permasalahan sampah organik.

Jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari di Indonesia hingga mencapai 11,330 ton per hari. Jika diambil rata-rata maka setiap orang menghasilkan sampah sebesar 0.050 Kg per hari.

“Keberadaan Maggot BSF merupakan salah satu alternative yang sangat baik dalam mengatasi permasalahan sampah organik,” tandasnya.

Sehingga, dengan budidaya Maggot, masalah sampah bisa diminimkan dan menghasilkan keuntungan secara ekonomi melalui harga pakan alternative. Terlebih, usaha budidaya maggot merupakan salah satu UMKM yang bernilai inovatif dan menjanjikan.

“Kami berharap, melalui PKM ini diharapkan pemuda karang taruna maupun alumni dapat bersama-sama mengembangkan usaha ini di Kabupaten Luwuk Banggai,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga mengharapkan adanya bantuan dalam pengembangan usaha budidaya maggot kepada kelompok yang sudah dibina itu. Mengingat potensi pemuda yang sangat besar dalam penguatan perekonomian Indonesia. (leb)