Ketua PKB : Kalau Ingin Berubah, Pimpinan Manajemen RSUD Jangan Tenaga Teknis (Dokter)

Syafruddin Husain, Ketua PKB dan Ketua Fraksi Gabungan DPRD Banggai

LUWUK, LUWUK POST – Salah satu Legislator DPRD Banggai, Ketua Fraksi Gabungan, Syafruddin Husain turut menanggapi kinerja dari RSUD Luwuk. Yang menurutnya persoalan atau masalah RSUD Luwuk hanya berputar pada hal-hal itu saja.
“Selama saya menjadi legislator kurang lebih 12 tahun, persoalan RSUD hanya berkutat di hal-hal itu saja, tidak maksimalnya pelayanan, ketersediaan obat yang kosong serta kekurangan dokter ahli senantiasa mewarnai pengelolaan RSUD selama ini,” terangnya kepada awak media pada Selasa (18/1).
Haji Udin panggilan akrab Ketua PKB Banggai ini bahkan menyimpulkan, bahwa biang kerok persoalan kinerja RSUD terletak pada manajemen, yang sudah waktunya tidak diberikan lagi pada tenaga teknis.
“Selama ini puncak kepemimpinan RSUD Luwuk, kalau bukan inisial dr. G pasti dr. Y yang menjadi kepala RSUD Luwuk dan masalah yang ditimbulkan pun hanya itu-itu saja,” bebernya.
Haji Udin menegaskan bahwa sudah sepatutnya hal ini menjadi pertimbangan untuk melakukan perubahan dengan mempercayakan manajemen kepada orang yang punya kredibilitas dan mumpuni dalam hal pengelolaan manajerial RSUD Luwuk.
“Jangan lagi tenaga teknis (dokter) yang menjadi direktur akan tetapi berikanlah kepada mereka yang kredibel dan mempunyai basic keilmuan manajemen pengelolaan pelayan kesehatan publik, jangan lagi tenaga teknis(dokter) yang ujung-ujungnya lebih mementingkan proyek pembangunan fisik,” kelakarnya.
Haji Udin mencontohkan bahwa beberapa RSU di Ibukota Sulawesi Tengah, Kota Palu tidak lagi menjadikan tenaga teknis (Dokter) menjadi pimpinan manajemen RSU.
“Jikalau SDM di Kabupaten Banggai tidak memilikinya, disilahkan untuk mendatangkan dari luar selama berkomitmen berlaku profesional untuk meningkatkan mutu pelayanan dan tatakelola RSUD,” usulnya.
Beda halnya ketika menyangkut pimpinan OPD yang memang membutuhkan pimpinan tenaga teknis, sebab berjibaku dengan proyek fisik bukan pelayanan kesehatan masyarakat (nyawa-red).
“Intinya saya sepakat ada restrukturisasi manajemen RSUD demi peningkatan kualitas pelayanan dan tatakelola, tapi jangan tenaga medisnya yang di restrukturisasi bisa fatal kita, sebab sekarang saja masih kurang,” tutupnya. (Tim)