Cerita Sedih Dibalik Relokasi Lapak KM5 : Dibangun dengan Kredit BANK

Proses pembongkaran lapak UKM Kilometer-5, Senin (7/8) [Foto : Aswar Poibara/Harian Luwuk Post]

LUWUK, SULTIMNEWS – Sejumlah lapak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan kilometer 5 seperti kafe dan warung kopi sederhana, saat ini tengah dilakukan pembongkaran, Senin (7/8), mereka rencananya di relokasi pada kawasan Kilometer-8, Kecamatan Luwuk Selatan.
Pemkab Banggai melalui Pemcam Luwuk Selatan, Rifody Penak mengungkapkan, bahwa pembongkaran sejumlah lapak UMKM di Kawasan Km 5 telah melalui sejumlah tahapan, seperti sosialisasi.
“Dan sudah pernah dirapatkan mengenai persiapan pembangunan daerah tujuan wisata kilometer lima yang akan segera dibangun. Sehingga seluruh pedagang melakukan dengan sukarela Pembongkaran lapak kawasan tersebut,” terangnya.
Walau pemerintah berdalih demi pembangunan daerah, namun dari aktifitas pembongkaran tersebut, menyisahkan cerita sedih nan disayangkan. Sebab hampir rata-rata pemilik lapak mengaku ketika membangun lapak itu menggunakan modal pinjaman dari Bank.
Seperti yang diungkapkan salah satu pelaku UMKM yang lapaknya di perintahkan untuk dibongkar. Haniah (45) seorang ibu dari kelima anak yang sedang bersekolah ini mengaku sangat sedih mendengar himbauan pemerintah untuk membongkar lapak usaha kafenya secara sukarela.
Mewakili teman-teman sesama pelaku UMMK di Kawasan itu, Haniah mengaku bahwa sebagian besar lapak di Kawasan itu dibangun dengan mengandalkan pinjaman dari bank.
Sebelumnya, dia mengakui untuk di Kawasan Kilometer 5 memang memiliki prospek pembeli yang ideal serta menguntungkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar pinjaman bank.
Hanya untuk relokasi di Kawasan Kilometer 8, Haniah merasa khawatir, sebab sebutnya seperti menuju ketidak pastian.
Haniah tetap meyakini, rejeki memang telah di atur oleh tuhan, akan tepai ia tetap saja merasa khawatir sebagai rakyat kecil yang mengandalkan penghidupan dari UMKM di Km5, ini seperti membuyarkan perencanaan usaha kami.

Proses pembongkaran lapak UKM Kilometer-5, Senin (7/8) [Foto : Aswar Poibara/Harian Luwuk Post]

“Apa nanti dengan relokasi menjamin usaha dapat lancar sehingga pembayaran kewajiban angsuran bank dapat terpenuhi,” keluhnya.
Dengan suara lirih, Haniah melanjutkan, baginya dalam memenuhi biaya Pendidikan kelima anaknya ditambah dengan kebutuhan sehari-hari sudah sangat pas-pasan apalagi ditambah kewajiban angsuran bank sangatlah memberatkan dengan akan dipindahkannya lokasi usahanya.
Tangisan istri dari Lanala yang berprofesi sebagai nelayan ini pecah, dirinya berharap pemerintah bukan hanya mementingkan relokasi semata, akan tetapi turut memberikan solusi mengatasi problem mengenai pemenuhan pembayaran angsuran bank.
Dengan batas waktu hanya sebulan melakukan pembongkaran lapak sampai akhir bulan ini, merupakan waktu yang sangat kurang.
Haniah menyampaikan permohonan kepada Pimpinan Daerah, dalam hal ini BUpati Banggai agar selain menggenjot pembangunan Kawasan Wisata Km5, juga dapat memberikan solusi dalam hal penyelesaian pembayaran angsuran pinjaman bank. Karena relokasi pasti akan berimbas pada penghasilan yang selama ini didapatkan saat di Km5.
Senada, Rusni (38) pelaku UMKM lainnya di Kawasan km5 mengungkapkan kekhawatirannya dalam penyelesaian kewajiban pinjaman kredit bank.
“kewajiban pembayaran angsuran bank terus berjalan setiap bulannya, kedepannya saya mau bayar bagaimana?” ujarnya linglung.
Sedih dan prihatin terhadap kondisi yang terjadi sesama pedagang yang terdampak relokasi, Rusni hanya berharap para pemimpin didaerah bisa mencari kan solusi terbaik bagi para pedagang yang terimbas. (*/tr-10)