Konflik Petani dan Sawindo Meruncing

Ikustrasi. Panen buah sawit. (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya)

BANGGAI, SultimNews.info—Petani plasma PT Sawindo Cemerlang mempersoalkan tindakan penahanan mobil yang mengangkut buah sawit pada Minggu malam (28/2), di lahan sawit plasma Desa Ondo-ondolu SPC, Kecamatan Batui.

Menurut petani, mereka berhak memanen buah sawit karena memiliki bukti kepemilikan sertifikat lahan. Seorang petani plasma, Suparman mengaku, dia dan beberapa petani lainnya mengaku sudah menandatangani Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) dan Surat Pengakuan Hutan (SPHu). “Kalau saya 2018,” kata Suparman.

Kata dia, mereka memanen atas dasar rekomandasi Komisi 2 DPRD Banggai, yang memerintahkan Bupati Banggai untuk menyelesaikan masalah antara petani dan PT Sawindo tersebut.

Selain itu, di dalam lahan plasma sawit yang saat ini dikelola PT Sawindo Cemerlang terdapat 58 sertifikat yang dikalim milik petani di dalamnya. “Nah, dalam rekomandasi itu, kami menilai lahan itu dikembalikan ke petani dan dikelola sendiri,” kata Suparman.

Dia menyebutkan, saat Minggu malam lalu sekitar pukul 20.00 Wita, dua mobil yang sedang mengangkut buah sawit di Ondo-ondolu SPC langsung dicegat dan ditahan. “Mobilnya sudah ditahan di Mapolsek Batui. Sekarang sudah ada dua laporan polisi dari Sawindo dengan tuduhan pencurian,” kata Suparman.

Kapolsek Batui Iptu IK Yoga Widata saat dikonfirmasi membenarkan kejadian itu. Kata dia, saat ini, pihaknya masih mengecek lokasi pengambilan buah sawit untuk diketahui secara pasti. “Dan kami sudah komunikasikan dengan pemilik mobil,” kata dia.

Senin siang lanjut dia, pihak PT Sawindo Cemerlang datang ke Polsek hendak membuat laporan polisi, tetapi pihaknya belum menerima karena masih mengecek lokasi terlebih dahulu serta bukti lain seperti SPK dan SPHu bila ada.

“Jika tidak, kami Polsek sementara waktu belum menerima (laporan). Sampai dengan saat ini (kemarin siang, Red) anggota masih di lokasi karena ada 4 titik yang harus dicek,” kata Yoga.

Barang bukti dua mobil yang berisi buah sawit masih berada di Mapolsek Batui. Sedangkan dua mobil lainnya yang berada di Desa Ondo-ondolu belum diamankan karena masih dicek ke TKP apakah pengambilannya di lahan plasma atau di lahan inti perusahaan.

“Kalau lahan inti itu murni milik perusahaan. Kalau plasma lahan dari masyarakat kemudian ditanami sawit oleh perusahaan, sehingga ada SPK dan SPHu,” pungkasnya.

Lanjut Yoga, bila petani plasma sudah menandatangani perjanjian tersebut dan sudah menerima Sisa Hasil Usaha (SHU), dan apabila memanen buah sawit sendiri lalu dijual maka bisa terpenuhi unsur pidana pencurian bila pihak perusahaan melaporkan.

“Saya sering sekali imbau kepada petani plasma untuk bersabar karena DPRD sudah merekomendasikan ke bupati, tinggal menunggu keputusan bupati,” bebernya.

Yoga menilai, petani salah menafsirkan rekomendasi DPRD tersebut sebagai putusan atas permasalahan. Padahal rekomendasi itu bukan putusan dan masih dalam proses penyelesaian. Sebagian besar lanjut dia, sudah menandatangani SPK dan SPHu.

“Kami berharap pihak perusahaan bisa bijak juga dalam hal ini, semoga ada solusi yang baik. Makanya saya harus cek lokasi dulu dan agar perusahaan bisa memperlihatkan SPK dan SPHu,” kata Yoga.

Terpisah, Asisten CSR PT Sawindo Cermelang, Josia menjelaskan, pihaknya menahan mobil yang mengangkut buah sawit karena diduga sudah melakukan pencurian di lahan sawit plasma. Sebab, buah yang dipanen itu berada di lahan sawit milik petani yang sudah menandatangani SPK dan SPHu.

Bila ada 58 petani yang mengklaim memiliki sertifikat di atas lahan itu, agar segera ditunjukkan dokumennya, sehingga masalah ini bisa diselesaikan.

“Kami minta dokumen sertifikat itu, tapi sampai sekarang belum ditunjukkan,” kata Josia saat dikonfirmasi Harian Luwuk Post di Luwuk, semalam.

Kata dia, bila petani memanen buah sawit di atas lahan yang sudah memiliki SPK dan SPHu, maka itu masuk dalam unsur pidana. Itulah alasannya pihak perusahaan membuat laporan polisi dengan tuduhan dugaan pencurian. Bahkan kata Josia, ada buah yang dipanen di lahan yang bukan miliknya. “Ini kan masalah,” kata dia.

PT Sawindo Cemerlang, tambah dia, tidak alergi kritikan dan masukan dari semua pihak. Kritikan itu adalah spirit untuk memajukan daerah ini.

“Saya berterima kasih atas kritikan dan masukan semua pihak,” kata Josia sembari menyatakan, PT Sawindo Cemerlang memiliki berkontribusi untuk memajukan daerah ini.

Nyaris Adu Jotos

Sementara itu adu jotos nyaris antara petani dengan karyawan PT Sawindo di area perkebunan sawit desa Ondo Ondolu, Kecamatan Batui, Selasa (2/3) sore. Petani yang dikabarkan nyaris dihakimi itu diketahui bernama Raup (50) warga Kelurahan Sisipan, Kecamatan Batui.

Raup yang dikonfirmasi via telepon mengaku, tindakan kekerasan yang dialaminya terjadi saat mobil perusahaan ingin mengangkut buah sawit milik Parman. Namun Raup melarang agar tidak mengakut buah sawit sebelum ada penyelesaian masalah antara petani dan PT Sawindo Cemerlang. Protes tersebut mendapat perlakukan kasar dari karyawan bernama Nur Alim.

“Kasian cuma saya sendiri jadi saya didorong-dorong, ada polisi 6 orang di situ, dorang tidak kasih kesempatan bicara, Nur Alim yang mengamuk, saya balarang atur dulu sebelum dimuat, tapi langsung didorong-dorong saya,” kata Raup.

Video berdurasi 1 menit 42 detik terlihat Raup didorong oleh seseorang bahkan nyaris dipukul. Beruntung seorang Humas bernama Andi Sirajuddin dan beberapa orang di sekitar melerai.

Video lainnya juga memperlihatkan adegan Nur Alim dilerai oleh beberapa orang, ia juga sempat merampas ponsel milik seseorang perempuan yang mendokumentasikan kejadian itu.

Kronologis berbeda diutarakan Asisten CSR PT Sawindo Cemerlang, Josia. Kata dia, berdasarkan laporan bahwa Raup sebenarnya tidak punya hak, bahkan bukan petani plasma dan tidak memiliki lahan sawit. “Tapi dia (Raup,_Red) mmprovokasi petani lain,” kata dia.

Lalu, Humas Sawindo Andi Sirajudin dan Legal Sawindo Ade menyarankan Raup untuk kembali saja ke rumah sembari melerai agar tidak terjadi keributan. Tetapi Raup justru semakin memprovokasi.

Nah, petani plasma binaan PT Sawindo langsung bersuara besar dan meminta Raup agar pulang dan tidak membuat gaduh. Dalam video berdurasi 1 menit 42 detik yang beredar itu sangat jelas bukan karyawan yang ribut dengan Raup, justru karyawan yang melerai.

“Dalam video itu, Andi Sirajudin baju warna putih justru melerai,” kata Josia. (awi)