PT Pertamina EP Zona 13 Donggi Matindok Field, yang tergabung dalam Regional Indonesia Timur Subholding Upstream, menggelar drill Multiple Casualty Incident dengan skenario pelepasan gas H2S, pada Kamis (28/11/2024), di Central Processing Plant.
Kegiatan ini merupakan upaya untuk melatih kesiapsiagaan dan menumbuhkan kewaspadaan terhadap situasi darurat, serta sejalan dengan tata nilai AKHLAK, yaitu Kolaboratif dan Kompeten.
Emergency drill ini melibatkan skenario kebocoran gas H2S di area manifold, mengakibatkan 6 orang korban, dengan jumlah tenaga medis yang tersedia sebanyak 4 orang.
Skenario ini juga melibatkan aksi demonstrasi warga di area operasional akibat bau gas. Situasi ini menantang Tim SERT (Site Emergency Response Team) untuk mengorganisir sumber daya yang terbatas guna mengatasi keadaan krisis.

Sehari sebelumnya, Tim SERT Donggi Matindok Field telah mengikuti pelatihan mengenai prosedur dan tata cara penanganan korban serta keadaan darurat, termasuk skenario dengan jumlah korban lebih banyak dari penolong.
Drill ini menjadi poin evaluasi bagi para rescuer, tenaga medis, sistem ICS (Incident Command System), dan sumber daya lainnya dalam kesiapan menangani keadaan darurat.
Latihan ini diikuti oleh Tim SERT Donggi Matindok Field, Tim Medis JOB Tomori, Tim IMT (Incident Management Team) Zona 13, Tim BST Regional 4, serta pekerja dan mitra kerja di seluruh Area Operasi.
Skenario ini dimulai saat anggota tim support operation field 1 sedang melakukan kegiatan log sheet monitoring di lapangan. Saat tiba di lokasi manifold, tercium bau gas H2S. Gas detector dan alarm fix gas detector berbunyi, menandakan kondisi darurat. Tim langsung melaporkan kejadian ke Control Room. Operator DCS segera memastikan aktivitas proses dan dampak pelepasan gas H2S tidak meluas, serta melaporkan kepada Sr. Supervisor Production Operation tentang kejadian tersebut. Sebagai respon, plant dimatikan. Sayangnya, paparan H2S mengakibatkan 6 orang terjebak di lokasi Plant dan menjadi korban.
Upaya penanganan dan evakuasi segera diaktifkan di bawah komando OSC (On Scene Commander). OSC bekerja sama dengan lintas fungsi untuk mengevakuasi korban, menstabilkan operasi, dan memulihkan keadaan. Upaya penanganan meliputi: memastikan peralatan terisolasi dan dampak pelepasan gas H2S tidak meluas, mengevakuasi seluruh personel ke muster point, mengamankan wilayah perusahaan dari potensi demonstrasi, serta mengidentifikasi korban dan menyusun strategi evakuasi korban.
Pjs Manager Donggi Matindok Field, Andy Famdiyazi menekankan, “masing-masing fungsi di Perusahaan telah memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Sehingga dalam simulasi ini menjadi wadah bagi tim untuk mengasah kembali peran dan tugas yang diberikan serta kesigapan tim dilokasi kejadian,” ungkapnya.
Selain itu, Superintendent HSSE Operation, Juang Maradona Irawan menambahkan, “Kompetensi dan Kolaborasi yang baik serta komunikasi menjadi aspek penting untuk menjaga kelancaran dan ketepatan penanganan di setiap aspeknya karena waktu adalah segalanya” imbuhnya.
Diharapkan melalui kegiatan ini, semua pekerja dan mitra kerja dapat terus mengasah keterampilan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya. Dengan demikian, mereka siap untuk bertindak dan melakukan penanganan sesuai dengan perannya saat terjadi keadaan darurat.(*/fil)






