Mengokohkan Silaturahmi, Merawat Tradisi

Merawat Tradisi : Pelaksanaan Tari Balatindak di Desa Luksagu, Kecamatan Tinangkung Utara wajib diadakan dalam perayaan hari-hari besar, terutama saat lebaran, Luksagu (13/5/2021) [Foto : Istimewa]

BANGKEP,SultimNews- Tak ingin suasana lebaran tahun ini berlalu begitu saja, warga Desa Luksagu Kecamatan Tinangkung Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) mempererat jalinan silaturahmi dengan pertunjukan Tarian Balatindak dan Kontau.

Pertunjukan itu digelar dengan teramat sederhana, tanpa panggung besar, tanpa pakaian adat lengkap, hanya balutan kain di kepala dan badan. Tapi beberapa pria tua, tetap tampak atraktif mempertunjukkan tarian Balatindak, di sebuah pelataran Kamis sore itu (13/5).

Iringan alat musik tradisional berupa gong, gendang yang terus dimainkan, memacu pasangan para pria tua itu untuk memainkan tombak dan perisai kecil di kedua tangan, sambil melakukan gerakan yang mengombinasikan tarian pedang dan tombak

Menurut Sekretaris Desa setempat, Idham Walid Apusing, dua tombak yang digunakan para penari secara bergantian itu, masih asli, dan sudah berusia ratusan tahun. Batangannya terbuat dari bambu gala.

Dituturkan dia, Balatindak merupakan sebuah tarian sakral. Dalam ritual adat tertentu pada zaman dulu, para penari biasanya tiba-tiba kehilangan kesadaran saat menari, tapi tarian tetap dilanjutkan. Tapi pada pelaksanaan kali ini tidak sampai menyentuh sisi sakralnya.

“Karena kita hanya ingin agar kaum muda bisa tertarik mempelajari dan melestarikan warisan budaya leluhur,” kata Idham.

Suku Banggai yang mendiami beberapa desa di Bangkep memang masih cukup intim dengan kedua seni dan olahraga tradisional itu. Bahkan, di Desa Luksagu, kedua jenis tradisi gestural itu menjadi salah satu unsur pengikat silaturahmi warga setiap tahun bertepatan dengan momentum idul fitri.

“Di sini (Desa Luksagu), Balatindak dan Kontau memang dilaksanakan hampir setiap, saat momen-momen penting, misalnya dalam acara penyambutan penting, perayaan hari-hari besar, terutama di hari idul fitri. Itu wajib ada,” sebut Idham Walid.

Meski demikian, lanjut Idam, dirinya sangat mengkhawatirkan eksistensi Balatindak dan Kontau hanya akan menyisakan cerita bagi beberapa generasi kedepan. Sebab gelaran budaya yang setiap tahun dilaksanakan itu hanya diperankan para orang tua.

Generasi muda di Luksagu, sebut dia, nyaris tak punya niatan partisipatif dalam hal yang berkaitan dengan tradisi. Umumnya, mereka berasumsi bahwa tradisi leluhur tidak sesuai dengan konteks jaman. Sehingga ketertarikan untuk berpartisipasi terbilang, tidak ada.

Sebagai bagian penting dalam struktur pemerintahan desa, Idham berkeinginan agar Balatindak, Kontau, dan tradisi warisan leluhur lainnya dapat terwariskan ke setiap generasi. Olehnya itu, bersama tokoh muda desa dan karang taruna, telah mendirikan sanggar seni, sebagai pusat pelestarian budaya.

Kegiatan pendidikan dan pelatihan rencananya akan intensif dilakukan setelah pandemi berakhir.

“Ini tentu menjadi tanggung jawab kita semua. Di tingkatan desa kami memaksimalkan peran kaum muda yang untuk merawat nilai tradisi agar tetap bisa dipertahankan,” ujar dia.

Olehnya itu, sebagai pewaris kebudayaan, pemuda tetap berpartisipasi menjaga nilai-nilai kultural, sebab jika tidak, maka Suku Banggai akan kehilangan identitas. (rif)