Harga BBM Meroket, Apa kabar Pak Tani?

Sultimnews.info -
Anggie Dian Pratiwi
Ketua Tim Satu Data Indonesia BPS Kab Banggai

Kenaikan harga BBM menjadi polemik yang hangat dibicarakan berbagai lapisan masyarakat. Bagaimana tidak, harga BBM yang melambung tentu akan membawa dampak dalam berbagai aspek perekonomian. Mulai dari naiknya inflasi, daya beli masyarakat yang melemah bahkan bisa menjadi penghambat pemulihan perekonomian daerah.

Mari kita telaah bersama, ketika suatu barang diproduksi untuk sampai ke tangan konsumen membutuhkan biaya produksi dan biaya antara, dimana salah satunya mencakup transportasi. Jika biaya transportasi ini naik, maka produsen akan cenderung menaikkan harga.

Harga naik yang terlalu tinggi akan membuat masyarakat semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya, akhirnya kemiskinan pun akan naik. Sementara jika kenaikan harga tidak setara dengan kenaikan biaya produksi dan biaya antaranya maka dampaknya nilai tambah dari produksi akan menurun yang akhirnya berujung pada perlambatan pertumbuhan ekonomi daerah.

Bulan Agustus Inflasi Kota Luwuk tercatat sebesar 0,54 persen, dimana produk pertanian menjadi penyumbang inflasi terbesar. Setelah terjadi kenaikan harga BBM pada awal bulan September ini besar peluang akan terjadi peningkatan inflasi yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.

Dalam dunia pertanian, kenaikan harga BBM ini akan bersinggungan langsung dengan biaya input produksinya, seperti biaya untuk traktor bahkan biaya penggilingan pada pertanian padi sawah. Para pengusaha pasti akan menaikkan biaya sewa alsintan ini untuk mempertahankan besarnya keuntungan seperti sebelumnya, sehingga kenaikan harga BBM dibebankan penuh pada petani. Dengan demikian, keuntungan yang diterima oleh petani semakin kecil.

Hasil pengolahan data SUSENAS menyebutkan bahwa, penduduk miskin Kabupaten Banggai pada tahun 2021 tercatat sebesar 7,83 persen atau sekitar 5.992 rumah tangga. Dimana 83,3 persennya adalah rumah tangga pertanian. Rumah tangga pertanian disini adalah rumah tangga yang memiliki minimal satu anggota rumah tangga bekerja di sektor pertanian tanpa melihat status usahanya. Bayangkan, jika dengan kenaikan harga BBM keuntungan petani menurun, maka akan memperdalam kemiskinan atau bahkan semakin banyak petani yang miskin.

Pemerintah telah menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai peredam dampak kenaikan harga BBM ini. Baik, katakan bantuan sebesar 600.000 rupiah ini dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup, tetapi bagaimana dengan biaya produksi yang harus ditanggung petani? Perlu campur tangan pemerintah yang lebih dalam disini. Dalam meningkatkan produktivitasnya, petani sangat bergantung pada benih yang berkualitas dan pupuk yang mudah didapat tentunya dengan harga yang terjangkau. Jika kedua input ini dapat dipenuhi dengan harga yang lebih rendah maka akan dapat menutup penurunan keuntungan yang didapat petani akibat naiknya biaya sewa alsintan tadi.

Sektor pertanian menyumbang 22,51 persen dari total PDRB Banggai, dan 56,34 persen rumah tangga di Banggai adalah rumah tangga pertanian. Menyelesaikan permasalahan petani akan dapat mendukung penurunan dampak kenaikan BBM terhadap perekonomian daerah.

Pertama, jika keuntungan petani dapat meningkat maka persentase kemiskinan akan dapat ditekan. Jika petani mendapatkan benih kualitas unggul dan pupuk yang memadai, maka akan meningkatkan produktivitas pertanian di Kabupaten Banggai, sehingga kita tidak perlu mengekspor dari luar daerah. Secara tidak langsung, produktivitas pertanian yang meningkat akan menyokong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banggai. Tak hanya itu, jika produk pertanian melimpah, maka harga produk pertanian di pasaran dapat dikendalikan, sehingga secara umum masyarakat tidak akan kesulitan memenuhi kebutuhannya.

Dalam rangka mendukung kebijakan pemerintah kedepannya, pada tahun 2023 nanti Badan Pusat Statistik akan melakukan Sensus Pertanian. Seluruh usaha pertanian yang ada di Kabupaten Banggai akan di data, baik produksi maupun biaya produksinya. Data ini akan sangat bermanfaat untuk pemerintah dalam rangka menetapkan kebijakan yang lebih tepat lagi pada bidang pertanian. Potensi apa yang daerah miliki serta tantangan apa yang dihadapi di sektor pertanian akan dapat dipetakan secara tepat. Maka, mari bersama kita sukseskan Sensus Pertanian 2023 dengan memberikan jawaban yang benar pada petugas sensus kami.(*)