Hindari Konflik dan Kerusakan Akibat Tambang

Munawir Kunjae

BANGGA, SultimNews.Info– Isu investasi tambang nikel memang memudar akhir-akhir ini. Namun, penolakan di akar rumput terus bergulir seiring meningkatnya kesadaran warga terhadap kelestarian lingkungan.

Kepala Desa Sampaka, Kecamatan Bualemo, Munawir Kunjae mengakui, bila benar tambang nikel akan masuk ke wilayah Bualemo, wajar apabila masyarakat menangapinya dengan serius. Alasannya, masyarakat akan menghadapi dampak lingkungan ke depan.

Ia mengakui, di beberapa tempat dampak lingkungan akibat tambang nikel tidak begitu signifikan, tetapi hal itu berbeda jika di Kecamatan Bualemo. “Di daerah lain boleh jadi topografinya baik, tapi berbeda di Bualemo, saya kira semua pemangku kepentingan di daerah ini tahu,” jelasnya, Senin (12/4).

Ia mencontohkan, meski selama ini bukit yang memunggungi Desa Sampaka belum disentuh, tetapi sudah terjadi banjir, puncaknya tahun 2017 yang membuat sejumlah warga harus kehilangan tempat tinggal dan ternak.

Karena itu, ia berharap perusahaan nikel yang hendak berinvestasi di sekitar Kecamatan Bualemo bisa dipertimbangkna kembali oleh pemerintah Kabupaten Banggai. “Jika tidak ke depan bisa saja berpotensi terjadi konflik di tengah- tengah masyarakat,” ungkapnya.

Dampak lainnya, kata dia, ratusan hektar area persawahan turut terancam jika terdapat perusahaan yang ingin berekspansi tambang nikel di Kecamatan Bualemo. Data yang diterima Harian Luwuk Post, dua perusahaan nikel akan masuk ke Kecamatan Bualemo.

Dampak tambang nikel, ujar dia, telah dirasakan di Desa Trans Mayayap, Lembah Tompotika, Dwikarya, dan Desa dan Longkoga Timur. “Masyarakat lagi-lagi yang akan dirugikan. Iming-iming membuka lapangan kerja juga ternyata kadang tidak sesuai yang diharapkan,” pungkasnya. ¬†(gom)