Proyek Tanggul Pengaman Pantai Desa Mbeleang Diduga tidak sesuai RAB

Kondisi Tanggul pengaman pantai di Desa Mbeleang, Kecamatan Bangkurung, Kabupaten Banggai Laut. [Foto : Aswar Poibara/ Harian Luwuk Post]

BANGKURUNG, SULTIMNEWS – Diduga kuat proyek kontruksi tanggul pengaman pantai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banggai Laut melalui program penanggulangan bencana di Desa Mbeleang, Kecamatan Bangkurung tidak sesuai RAB atau spek.
Tanggul yang dibangun kurang lebih sepanjang 530 meter dan merupakan Sub kegiatan penanganan pasca bencana ini dilaksanakan dengan nilai kontrak sebesar Rp5.388.598.600 dengan menggunakan sumber Dana Alokasi Khusus (DAK).
Pantauan awak media dilapangan yang turut didampingi warga setempat memperlihatkan konstuksi tanggul yang sudah selesai itu terlihat rapuh atau keropos.

Kondisi Tanggul pengaman pantai di Desa Mbeleang, Kecamatan Bangkurung, Kabupaten Banggai Laut. [Foto : Aswar Poibara/ Harian Luwuk Post]

Hal itu juga dibenarkan Ketua BPD Mbeleang, Abdi Rifal Aparinang, yang mengungkapkan bahwa bukan hanya terlihat keropos bahkan ketika di ketuk menggunakan tangan terdengar kosong.
“Ketika di ketuk pun terdengar kosong, dan material yang digunakan khususnya batu juga diduga tidak sesuai standar dalam pembangunan penahan pemecah ombak,” bebernya saat ditemui Rabu (6/12/2023) di Desa Mbeleang.
Menurut keterangan sejumlah warga setempat, kondisi itu telah diperiksa oleh Tim yang turun beberapa waktu lalu. Namun, mereka tidak mengetahui secara pasti apakah memang tanggul tersebut sudah sesuai RAB/Spek atau tidak.
Kepala Dinas BPBD Banggai Laut, Mulyadi Mojang ST.MT yang dimintai klarifikasi, menegaskan akan menerjunkan tim untuk memeriksanya.
“Nanti anggota saya akan turun ke lapangan untuk mengecek kebenarannya. Coba kirim foto-foto dan video yang dimaksud,” ungkapnya melalui sambungan telepon, Senin (11/12/2023).
Terpisah, tenaga ahli teknik sipil, lulusan 1979 UNHAS, Adrin Sululing yang diminta tanggapannya turut menjelaskan, bahwa berdasarkan pengamatan yang dilakukan memang tanggul yang dibangun tidak memenuhi syarat.
“Hal ini bisa dilihat dari batu pemecahnya saja, seharusnya secara teknik batu yang digunakan untuk tanggul pemecah ombak itu ukuran besar. Apalagi dengan pertimbangan kondisi laut di Desa Mbeleang, dimana selalu diterjang ombak besar di setiap musim angin barat,” terangnya.
Om Adrin sapaannya melanjutkan, idealnya untuk batu pemecah ombak yang digunakan dalam pembangunan itu menggunakan ukuran batu sekitar 250 kilo dan minimal 50 kilo.
Tujuannya, rincinya untuk memperkokoh bangunan. “Lebih bagus lagi kalau pembangunan tanggul itu mencontoh pembangunan tanggul di desa tetangga yakni di Desa Sasabobok yang menjadikannya blok beton ( canten) “. tandasnya.
Mengenai sesuai Anggaran atau tidak, om Adrin tidak mau menyimpulkan. Ia hanya menyebutkan, berdasarkan pengalamannya untuk analisis hitung-hitungan, pembangunan tanggul/pasangan batu sepanjang kurang lebih 450 meter menghabiskan biaya sekitar Rp1,2 Milyar. Sedangkan pemecah gelombang/ombak sekitar Rp3,7 milyar dengan bahan beton yang berukuran 0,5×0,5×0,5 atau 0,5×0,5x1m dengan lebar bersih 2,5 meter dan tinggi sandaran pada sisi tanggul pasangan batu 1,5m.
“Tanggul itu pasangan batunya sedangkan pemecah gelombang/ombak(break water) itu yang disisi tanggul bagian laut,” tutup om Adrin. (*/Asw)