Tiga Guru di Bangkep Sukses Jawab Tantangan Kemdikbud Ristek

Sultimnews.info -

Ketiga Pendamping Program Guru Penggerak berfoto bersama instruktur dan Kepala Bidang PGTK Dikbud Bangkep, Ramarani, usai Rapat Koordinasi Evaluasi dan Tindak Lanjut Pasca Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan I. [FOTO : ISTIMEWA]
SALAKAN, LUWUK POST-Gaung Isu pendidikan di Banggai Kepulauan, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga  kekurangan guru, nyaris sepi. Tapi siapa sangka, tiga Guru mampu catatkan nama daerah di kancah Pendidikan Nasional lewat Program Pendamping Guru Penggerak (PGP) Kemdikbud Ristek

Puluhan ribu guru dari berbagai pelosok negeri berharap bisa berkontribusi terhadap perbaikan kualitas pendidikan, terutama melalui peluang seleksi Pendamping Guru Penggerak. Tapi, sumber daya tak merestui niatan baik itu semua.

Para guru di Bangkep, awalnya enggan pernah bermimpi bisa lolos dari tahapan yang super selektif itu. Lantaran, pesaingnya bukan saja diikuti para sarjana, melainkan juga para magister, bahkan doctor.

Dari 376 Guru yang lolos hingga ke penugasan, tiga di antaranya dari Bangkep, yaitu Abd. Hamid Lindayo, S.Pd, Wahdania Sima, S.Pd, dan Uswatun Hasanah Pantenemo, S.Pd. Ketiganya, mulai bertugas sejak 2020 lalu.

”jujur pak, kami sempat merasa minder. Soalnya saingan kami, ada yang magister, bahkan doktor. Apalagi kami sebagian berasal dari sekolah yang punya keterbatasan fasilitas. Tapi Alhamdulillah kami punya semangat yang cukup,” ungkap Abd Hamid Lindayo, Koodinator Pendamping Guru Penggerak Bangkep.

Pada seleksi tahap satu, Kementerian harus menghentikan langkah 42.404, dari 43.000 jumlah guru peserta seleksi, melalui tahapan yang cukup alot. Tak sampai disitu, ternyata Kementerian lagi-lagi harus mengeliminasi 57 peserta, hingga tersisa 539 peserta.

Padahal, pengurangan 57 peserta itu, sudah cukup jauh kuota yang dibutuhkan, yakni sebanyak 560 guru. Hingga di penghujung tahap seleksi di atas kertas, kementerian mencatat hanya 514 guru yang layak menyabet sertifika Pendamping Guru Penggerak oleh kementerian.

“kami pikir, 514 ini, semuanya akan ditugaskan, ternyata tidak. Yang mendapat surat perintah tugas ternyata hanya 386 atau 376 dari berbagai daerah yang ditugaskan. Kami akhirnya berkesimpulan bahwa hal ini bukan tentang lulus atau tidak. Tapi tentang layak tidak layak, “ tutur dia.

Secara keseluruhan, peserta dari Bangkep yang mengajukan pendaftaran sebanyak 48 orang. Tapi, baru sampai di tahap seleksi berkas, sudah gugur. Jadi, kata Abd Hamid, bukan hanya kecerdasan intelektual, tapi kecerdasan emosional dibutuhkan dalam hal ini.

Selama bertugas, Abd Hamid mengaku, bersama kedua rekannya Wahdania Sima dan Uswatun Hasanah Pantenemo telah melakukan pendampingan terhadap 24 Guru Penggerak di Bangkep.

Hasilnya, empat guru di antaranya telah dipercayakan P4TK untuk mengajar guru-guru yang ada di Palu. Dua guru Bahasa Indonesia, satu Guru Bimbingan Konseling, dan 1 orang Guru PJOK.

“jadi, sekarang empat guru yang mengajar guru-guru Palu itu, hasil cetakan kami. Makanya, kami yang dilegitimasi sebagai pendamping oleh kementerian itu, masuk kategori Gurunya Guru,” cetus Abd. Hamid.

Saat ini, ketiga guru tersebut tengah menyiapkan diri untuk mengikuti seleksi tingkatan lebih tinggi, yaitu Fasilitator PGP di Propinsi. (Rif)