Nasib Petani Plasma Batui segera Ditentukan

VERIFIKASI DI LAPANGAN: Asisten 2 Setda Banggai Alfian Djibran bersama tim verifikasi dan petani plasma saat mengecek kondi- si kebun sawit di Desa SPC Ondo-ondolu, Kecamatan Batui, Selasa (9/3). Setelah turun lapangan, tim ini berjanji segera mem- buat keputusan atas perselisihan ini. (Foto: Asnawi Zikri)

BANGGAI, SultimNews.info- Pemerintah daerah (Pemda) Banggai melalui tim verifikasi konflik petani plasma dan PT Sawindo Cemerlang menunaikan janjinya pasca-rapat di kantor Dinas TPHP Banggai pada Kamis (4/3) lalu.

Tim yang dipimpin Asisten 2 Setda Banggai Alfian Djibran mengunjungi kantor PT Sawindo Cemerlang di Desa Suka Maju 1, Kecamatan Batui Selatan, Selasa (9/3), untuk mengklarifikasi sekaligus mengecek dokumen yang berkaitan petani plasma, baik itu pembayaran bagi hasil buah sawit, maupun Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) dan Surat Pengakuan Hutang (SPHu).

Di hadapan tim verifikasi, pihak perusahaan maupun petani plasma saling klaim kebenaran. Pihak PT Sawindo membeberkan, bahwa petani plasma yang sudah masuk dalam SK Bupati Banggai itu memiliki hutang mencapai Rp 63 juta sejak proses pembersihan lahan, penanaman hingga panen. Dari hutang itu, petani disebut baru membayar Rp 5 juta. Sistem ini disebut tanggung renteng.

Namun, pernyataan pihak perusahaan dibantah keras oleh petani plasma. Petani menegaskan, sangat tidak masuk akal biaya hutang sebesar itu dan pembayarannya baru Rp 5 juta selama perusahaan beroperasi. Sebab, fakta di lapangan, perusahaan tidak membersihkan kebun petani dan memperbaiki akses jalan. Terkiat tanggung renteng yang disebutkan perusahan, jelas-jelas tidak tercantum dalam peraturan menteri.

Tidak hanya itu, pihak perusahaan sedikit kelabakan menujukkan dokumen pembayaran bagi hasil buah sawit plasma untuk petani. Menurut petani, sejak tahun 2015 buah sawit dipanen, tercatat baru 10 kali dibayar. Itupun bila masyarakat ‘mengamuk’ meminta haknya.

Seusai mengklarifikasi dan mengecek dokumen di PT Sawindo Cemerlang, tim verfikasi langsung mengecek lahan petani plasma di Desa SPC Ondo-ondolu, Kecamatan Batui.

Di hadapan petani, Alfian Djibran menyatakan, tim sudah menemukan masalahnya secara umum pasca-meneliti dokumen PT Sawindo Cemerlang. “Kami sudah identifikasi pokok masalahnya. Setelah turun lapangan ini, kami akan segera putuskan,” kata Alfian.

Pekan ini kata dia, pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) Banggai akan cek lokasi untuk bisa mengetahui secara pasti apakah lahan 58 petani yang memiliki sertifikat maupun SKPT itu masuk areal Hak Guna Usaha (HGU) atau tidak.

“Kami menunggu data kolektif petani yang punya sertifikat. Data itu nanti akan dibuat oleh pemerintah desa, nanti distempel pemerintah desa alu diserahkan ke kami. Supaya kami bersama BPN segera selesaikan masalah ini,” tambah Kepala Dinas TPHP Banggai, Usman Suni.

Soal tuntutan masyarakat mengambil kembali lahannya lalu dikelola secara mandiri, Usman minta petani bersabar dan menahan diri sembari menunggu putusan tim verifikasi. “Harus pasti dulu datanya. Supaya kita bisa mengambil keputusan,” kata dia.

Widiawati, petani plasma Batui mengaku sudah cukup sabar selama 11 tahun PT Sawindo Cemerlang beroperasi tetapi justru menyusahkan dan tidak membawa kesejahteraan. Widiawati tidak ingin tuntutan petani diperlebar.

“Sebenarnya bukan lokasi, tetapi sawit yang ada di lokasi. SPK itu yang seret kita ke hukum. Koperasi kita tidak berfungsi. Kami butuh makan, anak-anak kami sekolah,” keluhnya.

Hal serupa juga diungkapkan Tasmin, petani SPC Ondo-ondolu. “Kalau digusur secara paksa malam hari, lahan sudah kami serahkan tahun 2010. Tahun 2015 sudah panen, tapi tidak ada hasil. Sampai 2017 baru ada SPK. Kami hentikan panen tapi dipolisikan. Kami minta mandiri, tapi katanya tidak layak konversi. Kami ingin dilepaskan. Kami nego, kami kelola, kami bayar hutang. Pihak perusahaan tidak pernah merawat,” kesalnya.

Kebun petani plasma SPC Ondo-ondolu itu  tidak terawat terbukti saat tim verifikasi turun meninjau. Selain pohon sawit tidak dirawat, akses jalannya pun rusak. Kondisi ini membuat Alfian Djibran geleng-geleng kepala. (awi)