Waspada Pneumonia Penyebab Kematian Tertinggi pada Anak

dr. Ni Made Gita Andariska, S.Ked

(Dalam memperingati World Pneumonia Day)

Pneumonia adalah radang paru akibat infeksi saluran pernapasan akut yang menyebabkan kantung udara paru (sel alveoli) yang seharusnya terisi udara justru terisi oleh “nanah” atau cairan. Kondisi tersebut menyebabkan kesulitan bernapas dan pertukaran oksigen. Nanah atau cairan ini terbentuk akibat proses peradangan yang umumnya dicetuskan oleh infeksi baik virus, bakteri, maupun jamur. (WHO, Pneumonia in children.  2022)

Pneumonia merupakan penyebab utama kematian anak usia kurang dari 5 tahun. Berdasarkan data WHO 99% kematian anak akibat pneumonia terjadi di negara berkembang, setiap tahunnya lebih dari dua juta anak balita meninggal akibat penyakit pneumonia. Di Indonesia pneumonia merupakan penyebab dari 16% kematian balita, yaitu diperkirakan sebanyak 920.136 balita meninggal akibat pneumonia di tahun 2015. (Kemenkes RI, 2016) Sulawesi Tengah merupakan salah satu dari lima provinsi di Indonesia yang mempunyai insidens dan prevalens pneumonia tertinggi di Indonesia. (Riskesdas, 2013)

Pneumonia terjadi akibat kuman masuk ke paru-paru, secara langsung (akibat inhalasi atau terhirup secara tidak sadar) maupun tidak langsung (misalnya akibat penyebaran kuman melalui aliran darah). Kuman akan memicu respon imun tubuh dan menyebabkan proses peradangan. Hal tersebut akan menyebabkan saluran napas bawah terisi sel darah putih, cairan dan sisa sel yang mengganggu proses pertukaran udara dan oksigen dengan karbondioksida. (Chiemelie E, et al. Pediatric pneumonia, 2022)

Gejala pneumonia yang paling umum meliputi demam, batuk, sesak napas, lemas dan lelah. Gejala pada bayi dapat berupa berkurangnya asupan makan, napas merintih, dan sesak napas. Sebaliknya, pada anak yang lebih besar, gejala yang lebih umum adalah sesak napas, nyeri dada, nyeri perut, dan sakit kepala. (Crame E, et al. Paediatric pneumonia. Elsevier. 2021)

Faktor risiko terjadinya pneumonia antara lain adalah daya tahan tubuh rendah (misalnya akibat kurang gizi, gizi buruk, tidak mendapatkan ASI eksklusif), hunian padat, penyakit penyerta (misalnya HIV dan campak), polusi udara, asap rokok serta imunisasi tidak lengkap. (WHO, Pneumonia in children.  2022)

 

Menurut WHO Pencegahan pneumonia merupakan upaya utama dan mendasar untuk menangani penyakit yang mengancam jiwa ini. Pencegahan pneumonia pada anak antara lain sebagai berikut:

  1. Melindungi anak-anak dengan pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan, Makanan Pendamping ASI (MPASI) dan makanan tambahan yang adekuat.
  2. Mencegah dengan pemberian imunisasi dasar lengkap, cuci tangan pakai sabun, stop merokok dan sirkulasi udara bersih tanpa asap.
  3. Mengobati dengan segera membawa anak yang sakit ke fasilitas Kesehatan terdekat.

 

Bila terjadi tanda dan gejala pneumonia, segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Diagnosis dan pengobatan pneumonia yang efektif sangat penting untuk meningkatkan angka harapan hidup anak. Untuk memenuhi target tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) yaitu mengakhiri kematian terkait pneumonia yang dapat dicegah. (WHO, Pneumonia in children.  2022).